Cara Mempelajari dan Memahami Filsafat Ilmu
Konon, filsafat itu
sangatlah sulit. Sedikit sekali orang yang mampu mempelajarinya. Bahkan, kata
orang di luar sana, “jangan terlalu serius belajar filsafat! Bila otak anda
tidak kuat, nanti bisa menjadi gila karenya. Buat apa mengambil risiko ini?
Padahal filsafat itu sesuatu yang abstrak, jauh dari kehidupan kita
sehari-hari,” Menanggapi hal ini saya agaknya santai-santai saja dan untungnya
saya sudah gila jauh sebelum mempelajari filsafat. Teman-teman saya di Jurusan Ilmu Komunikasi yang mempelajari ilmu filsafat sama kok seperti anak-anak
fakultas lain. Mereka jika lapar pasti makan, makannya pun makan nasi dengan
lauk pauk yang sesuai kantong mereka. Pakaian mereka juga sama dengan yang
lain. Mandi pun juga teratur (kecuali saya). Coba deh jika masih ragu, dan jika
ada orang gila lewat di depan anda, coba tanyakan “Anda dulu fakultas filsafat,
ya?”
Memang ada banyak mitos
mengenai filsafat seperti itu. Malah mitos-mitos tersebut tidak beredar
dikalangan kaum awam. Sebagaian agamawan berpandangan,memegang erat-erat kitab
suci sebagai pandangan hidup sudah lebih dari cukup, sehingga filsafat yang
menjanjikan kebenaran mutlak tidak diperlukan. Sebagaian ilmuan mengira, mereka
berkewajiban untuk melepaskan diri secara total dari filsafat untuk
mempertahankan keilmiahan mereka. Sebagaian seniman merasa, filsafat tidak akan
membantu kita dalam menikmati keindahan. Sebagian usahawan bilang, filsafat
hanya membuang-buang waktu saja, lebih baik mengamati harga tomat di pasar.
Mempelajari filsafat
sebenarnya tidak sangatlah sulit. Cukup dengan segelas kopi dan sebungkus
rokok, sudah cukup untuk membuat anda menyelami filsafat. Itulah yang
kebanyakan teman-teman saya berpendapat. Namun jika saya hanya cukup secangkir
kopi, teh, dan niat untuk belajar, hehe. Saya tidak merokok dan sulit
mendapatkan niat untuk belajar. Maka dari itu level saya jauh di bawah teman-teman
saya.
Jika anda masih takut
mempelajari filsafat, maka saya akan mengutipkan penjelasan singkat dari Dr.
Stephen Palmquis dalam bukunya yang berjudul The Tree of Philosophy A Course of
Introductory Lectures for Beginner Students of Philosophy. Dalam uraian singkat
beliau, akan menjabarkan buku apa saja yang baik dan aman untuk kalian baca.
Setiap buku mewakilkan metode atau pendekatan utama yang dipakai dalam
pembelajaran filsafat. Metode di sini sekaligus memaparkan beberapa cara untuk
mengawal anda untuk masuk menuju gerbang dunia filsafat yang luar biasa indah.
Pertama adalah
pendekatan terpadu. Dalam kutipan yang ditulis oleh Palmquis, beliau
menjabarkan bahwa metode ini dalah yang paling sempurna. Sempurna di sini
adalah menyempurnakan kelemahan-kelemahan metode-metode yang lain sekaligus
memaksimalkan metode tersebut. Metode ini mensintesis berbagai pendekatan dalam
satu metode saja. Contoh buku yang direkomendasikan tentu saja karya dari Dr.
Stephen Palmquis yang bejudul Pohon Filsafat.
Menurut saya pribadi,
jika orang yang baru ingin mempelajari filsafat, buku ini masih terlalu berat.
Karena di buku ini langsung merujuk pada cabang-cabang filsafat seperti
metafisika, logika, ilmu, dan ontologi. Walau di awal akan menjelaskan
pengertian dari filsafat. Bagusnya buku ini adalah anda akan seperti kuliah
pada umumnya. Palmquis menjadi dosennya dan kalian menjadi anak didiknya. Anda juga seolah-olah mengikuti mata kuliah
selama 12 pekan.
Kedua adalah pendekatan
eksistensial. Metode ini memandang tugas pertama pengantar filsafat adalah
memperkenalkan jalan hidup filosofis tanpa terbelenggu oleh sistematikanya.
Dalam pendekatan ini, tema-tema pokok filsafat didalami dengan harapan bahwa pembacanya
akan dengan sendirinya memperoleh gambaran tentang filsafat yang seutuhnya.
Contoh penerapan pendekatan eksistensial yang baik adalah A.C. Ewing dalam
bukunya The Fundamental Questions of Philosophy. Dalam bukunya Ewing saya tidak
bisa memberi komentar lebih karena saya belum memiliki buku tersebut. Namun
salah satu dosen menganjurkan untuk membaca buku ini untuk mengetahui
problem-problem apa saja yang dapat kita temui dalam dunia filsafat.
Yang ketiga adalah
pendektan analitis dengan berbagai variasinya. Metode ini memandang jika tugas
utama pengatar filsafat adalah menjelaskan unsure-unsur filsafat. Dalam
pendekatan ini, isi filsafat diuraikan secara sistematis dan diterangkan
segamblang-gamblangnya. Contoh pengguna metode tersebut dengan baik adalah
Louis O. Kattsoff dalam bukunya Element of Philosophy. Pertama kali saya
membaca buku ini jujur saja sangatlah memeras otak. Mungkin dikarenakan buku
tersebut adalah terjemahan. Namun sesungguhnya buku ini sangatlah bagus untuk
memulai belajar filsafat. Karena buku tersebut menerangkan bagaimana cara
berfikir kefilsafatan, ciri berfikir kefilsafatan, dan lain sebagainya.
Keempat adalah
pendekatan metodologis. Cara ini sangatlah penting mengingat bahwa cara
terpenting memahami filsafat adalah dengan berfilsafat. Dalam pendekatan ini,
berbagai metode berfilsafat ditimbang-timbang, kemudian metode yang di pandang
terbaik diuraikan lebih lanjut untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman
berfilsafat. Contoh pemakai metode ini dengan baik adalah Mark B. Woodhouse
dalam bukunya A Preface to Philosophy. Sama halnya dengan buku milik Ewing,
dikarenakan saya belum pernah membacanya. Mungkin lain kali saya akan berburu
di perpustakaan untuk menikmati karya luar biasa ini.
Dan yang terakhir adalah pendekatan historis dengan berbagai variasinya. Metode ini sering dipandang baik bagi para pemula. Dalam pendekatan ini, pemikiran para filosof terpenting dan latar belakang mereka dipelajari secara kronologis. Contoh pemanfaat pendekatan historis yang baik adalah Jostein Gaarder dalam bukunya Sofies Verden. Ini adalah buku yang indah. Dalam buku ini anda akan diajak menuju dunia anak usia 14 tahun yang sangat berbeda dengan anak pada umumnya. Cerita yang disuguhkan dalam buku ini sangat menarik dan direkomendasikan sekali untuk anda penggemar cerita seperti Harry Potter, Goosebumps, atau novel lainnya yang ingin menyelami dunia filsafat. Dalam buku ini kalian tidak akan bosan dalam belajar filsafat.
Namun buku ini tidak
dianjurkan untuk yang ingin mempelajari poin-poin utama dalam filsafat. Karena
dalam buku ini fifty-fifty dalam bagian pembahasan filsafat dan alur cerita.
Siapa pun yang tidak ingin keluar dari zona nyaman pemikirannya, tidak ingin
Tuhannya diusik, tidak ingin ideologi yang sudah dibangun bertahun-tahun hancur,
tidak ingin mengetahui makna hidup ini dan tidak ingin mengerutkan kening untuk
menemui pertanyaan-pertanyaan filsafat lebih baik jangan membaca satu kalimat
pun dari buku ini.
Akhir kata, selamat
mempelajari filsafat dan mungkin lebih baik anda membawa roti yang banyak, tapi
bukan untuk menjadi cemilan ketika anda duduk manis membaca dan mempelajari
filsafat, melainkan untuk menabur remahnya di sepanjang perjalanan karena bisa
jadi pikiran anda tersesat dalam jalan filsafat dan tidak tahu kemana harus
pulang.
Sumber :
http://mybllshtprspctv.blogspot.co.id/2016/01/metode-metode-untuk-mempelajari-filsafat_8.html
Komentar
Posting Komentar